Kamis, 13 Agustus 2009

musik tentang cinta

Trend Musik Indonesia dari Jadul sampai Sekarang

Deddy Dores

Deddy Dores

APA sebenarnya yang terjadi dengan trend musik di tanah air. Pada era tahun 80an kita banyak mengenal penyanyi dan pencipta lagu dengan nada yang hampir semua serupa tapi tak sama. Hingga saat itu trend lagu Indonesia didominasi dengan istilah “Jurus 3 Kunci”. Betapa tidak, pada era tersebut para musisi seperti Obbie Messakh, Rinto Harahap, Pance F Pondaag, Deddy Dores, dan masih banyak lagi selalu menciptakan dengan lagu yang rata-rata hanya mengandalkan kord GCD, CFG, DGA, ADE dsb.

Obbie Messakh

Obbie Messakh

Namun demikian, tak dipungkiri, musik kala itu sangat mudah untuk diterima di kalangan masyarakat. Walaupun hanya mengandalkan Stasiun TVRI sebagai promo dan radio-radio pemerintah dan swasta yang memang kala itu sangat akrab sebagai media elektronik yang digemari masyarakat. Betapa tidak, kala itu fanatisme penggemar musik begitu kental terhardap artis yang diidolakan. Sebut saja penggemar Meriam Bellina, mereka akan selalu berusaha membeli kapan saja Meriam Bellina mengeluarkan album baru meskipun baru 1 atau 2x mendengar lagunya baik melalui tayangan televisi maupun dari radio.

Di era 80an, selain musik pop melankolis dalam waktu yang sama juga sangat akrab di telinga penggemar musik yang tak lain musik dangdut. Nama-nama seperti Hamdan ATT, Meggi Z, Rita Sugiarto, Imam S Arifin, Mansyur S, Leo Waldy yang tentu tak ketinggalan adalah H. Rhoma Irama. Bahkan sampai Gubernur Jawa Timur kala itu Basofi Soedirman juga ikut menyemarakkan musik dangdut dengan lagu yang sangat hits kala itu “Tidak Semua Laki-laki” buah karya Leo Waldy.

Obbie Messakh

Pance F. Pondaag

Rhoma Irama

Rhoma Irama

Di samping musik Pop Melankolis dan Dangdut, di era itu juga sangat kental musik-musik pop riang seperti lagu “Madu dan Racun” yang dipopulerkan dan diciptakan Ari Wibowo dengan grupnya Bill & Brod, “Si Jantung Hati”-nya Ade Putra, dan lagu-lagu dari Almarhum Gombloh, Farid Harja juga Muchlas Ade Putra.

Di pertengahan tahun 80an hingga memasuki tahun 90an, indonesia dibanjiri lagu-lagu bergaya Slow Rock Malaysia yang kala itu dimulai dengan ngetopnya lagu Isabella yang dibawakan grup kawakan dari Negeri Jiran SEARCH dengan vokalis bernada tinggi Amy. Lagu-lagu lain yang hits kala itu di antaranya; Gerimis Mengundang (SLAM), Rindu Serindu-Rindunya (SPOON), Mencari Alasan (EXIST), Bukan Ku Tak Tega (IKLIM), Adakah Kau Setia (STING).

Hitsnya lagu-lagu Malaysia tersebut diikuti pula oleh musisi-musisi Indonesia dengan aliran musik serupa (gaya nada minor) seperti Deddy Dores dengan lagu-lagu Khais dan Laila (Deddy Dores – Kaisar Band), Angelina (Deddy Dores-Lipstick Band), Bintang Kehidupan (Nike Ardilla), Hatiku Bagai Terpenjara (Nafa Urbach), Cintaku Tak Terbatas Waktu (Anie Carera) dll. Selain Deddy Dores, musisi seperti Rosyid Soemantri juga banyak menciptakan lagu-lagu dengan aliran yang sama yang banyak dibawakan oleh Poppy Mercury seperti lagu Antara Jakarta dan Penang, Surat Undangan, Terlalu Pagi dll.

Megy Z

Megy Z

Sampai pada awal tahun 2000an, musik Indonesia masih belum bergerak dari gaya-gaya ortodoknya yang terkesan monoton. Hingga akhirnya muncullah band-band tanah air yang sedikit merubah gaya ber-pop seperti Dewa 19, Slank, Sheila On 7, Ada Band, The Fly, Gigi yang akhirnya diikuti band-band ternama saat ini seperti Peterpan, Ungu, d’Masiv, Nidji yang memberi warna agak berbeda di musik negeri ini.

Nah, saya sebagai penulis, juga ingin berkomentar dengan sedikit kekhawatiran. Mengapa demikian? Saat ini trend musik Indonesia agak condong kembali jadul dengan gaya musik semi ngebeat ‘Kemayu ke-Melayu-Melayu-an”. Betapa tidak! Awalnya Kangen Band yang lebih dulu ngetop lagu-lagunya lewat CD bajakan yang akhirnya Warner Music Indonesia memberinya tempat bernaung, Merpati Band di Nagaswara lalu diikuti oleh Trinity Optima Production menggebrak promo besar-besaran band asal Bandung ST12 dengan lagu gaya Melayu Dangdut setelah sebelumnya mengeluarkan album “Rasa yang “Jalan Terbaik” kini mengeluarkan jurus gaya P.U.S.P.A.

ST12

ST12

Beruntung, meskipun demikian grup-grup band papan atas lain seperti Peterpan, Ungu, Nidji, Kerispatih, d’Masiv dan yang lainnya masih tetap eksis dengan sajian musik yang gaya masing-masing, sangat menghibur dan sangat digemari masyarakat pencinta musik tanah air.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar